Ghea Panggabean Cinta Jumputan

Ghea_Panggabean.jpg
sripo/arsep
Ghea Panggabean
Sriwijaya Post - Senin, 8 Maret 2010 09:26 WIB

MASYARAKAT pecinta busana di Indonesia bahkan manca negara tentunya sudah tidak asing dengan nama Ghea Panggabean, desainer kondang papan atas yang dilahirkan di Rotterdam, Belanda tahun 1956. Terlihat bersama rombongan 12 duta besar dan konsulat ke Pulau Kemarau dan Kampung Kapitan.

Ghea yang mengenakan blus jumputan Palembang warna uwung yang dipadukan dengan celana jeans biru dan sal yang juga jumputan berwarna merah marun terlihat kontras. Wanita berusia 54 tahun saat dibincangi Sriwijaya Post di atas kapal Putri Kembang Dadar menuturkan bahwa dirinya sangat mencintai kain khas Palembang terutama jumputan. Jumputan Palembang itu lah yang melambungkan namanya di industri fashion, baik di dalam maupun luar negeri. “Saya sangat mencintai Palembang. Saya mengawali karier dengan kain jumputan. Jumputan itu bisa digunakan juga saat santai,” kata Ghea dengan semangat, Sabtu (6/3).

Selesai sekolah fashion di London tahun 1979, Ghea memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Ia menemukan kain jumputan dalam bentuk sal di salah satu tempat penjualan barang antik di Bali. Rasa penasarannya untuk mencari tahu dari daerah mana kain jumputan, ia pun pergi ke museum tekstil. Ternyata kain itu dari Palembang. Maka ia pun ke Palembang dan mencari pengrajin dan dibuatlah desain dalam bentuk printing. Baginya, jumputan Palembang memiliki daya tarik tersendiri, terutama warna yang alamiah seperti marun, merah manggis, kunyit dan lainnya.

Bagi wanita berdarahkan Batak dan Belanda ini, kain khas Palembang seperti jumputan dan songket banyak mengilhami dan inspirasi karya-karyanya. Tahun 1987, ia mendapatkan penghargaan APAREL yang memperkenalkan jumputan.

Dalam setiap desain terbarunya, Ghea selalu menggunakan kain khas daerah ini dalam produk barunya. Saking cinta dia dengan Palembang, beberapa kali harus datang ke kota ini hanya untuk urusan pembuatan kain jumputan dengan pengrajin tenun. Namun, baru kali ini, ia melihat secara langsung keindahan Sungai Musi, Pulau Kemarau dan Kampung Kapitan.

Setelah 30 tahun berkarier, Ghea mengadakan fashion show di Griya Agung dihadapan para duta besar dan konsultan. Dia menghabiskan waktu 10 hari untuk membuat busana yang diperagakan Sabtu (6/3) malam lalu. Tak hanya itu saja, kecintaannya pada Kota Pempek, tidak hanya dituangkan lewat desain pakaian, tetapi juga pada produk pecah belah seperti teko, cangkir, piring dan tatakan bermotifkan kain jumputan.

“Produk ini saya persembahkan kepada daerah ini sebagai penghargaan atas apa yang saya dapatkan selama ini. Jumputan sangat berarti bagi hidup saya,” tutur Ghea.

“Saya sangat tertarik kalau ada pengrajin atau UKM untuk bekerja sama dengan saya. Seperti dengan Rumah Busana Tria dan Rumah Tenun,” tegasnya. (arsep p)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Ghea Panggabean Cinta Jumputan"

Posting Komentar

Beri komentar pada blog ini